Home TechnoChat LG G8X ThinQ, HP Layar Lipat yang Jauh Lebih Murah dari Harga...

LG G8X ThinQ, HP Layar Lipat yang Jauh Lebih Murah dari Harga Galaxy Fold

Bagi penulis, ponsel LG memiliki kenangan tersendiri. Apalagi dengan fakta saat ini, kita tidak bisa mendapatkan smartphone LG secara resmi di Indonesia, makin membuat kenangan melekat lebih dalam. LG termasuk produsen yang kreatif. Ponselnya sempat dikenal menjadi salah satu yang pertama, atau yang mempopulerkan kamera 3D stereoscopic, dual-camera, dual-screen, aksesoris modular, hingga yang sejauh ini belum diterapkan lebih lanjut produsen lain, memanfaatkan ruang dalam ponsel untuk mendapatkan efek resonansi speaker BoomBox yang bakal semakin keras ketika kita meletakkan ponsel di permukaan apa pun (well, HTC U11 pertama menerapkan itu, namun ngga sekeren LG G7+ ThinQ hasilnya).

Satu inovasi baru LG yang ternyata dipandang sebelah mata adalah LG G8X ThinQ. Padahal, ini bisa menjadi alternatif Galaxy Fold dengan harga hanya 1/3-nya saja.

LG G8X ThinQ mungkin termasuk ponsel underdog yang tidak banyak diperhitungkan tahun 2019 kemarin. Apalagi dengan keputusan LG mundur di tengah persaingan ponsel Indonesia (bahkan tipe flagship-nya absen di sebagian besar pasar Asia pada tahun 2019 kemarin), dan mayoritas tipe baru yang diumumkan di sepanjang tahun 2019 tidak ada yang menawarkan fitur yang wow. Kecuali LG G8X ThinQ. Ponsel ini memang hanya punya satu layar, namun dipaketkan dengan aksesoris khusus yang otomatis mengubahnya menjadi ponsel folder ala Galaxy Fold, sekaligus memberinya tambahan 2 layar lainnya.

Setelah diumumkan September 2019 lalu di acara IFA 2019, LG mulai menjualnya di luar Korea. Di India LG G8X ThinQ dipaketkan dengan aksesoris LG Dual Screen dan bonus TV LG 24 inch, ditawarkan hanya Rp9 jutaan. Ya, ada Snapdragon 855 di balik layar OLED-nya, menjadikan ponsel ini sangat affordable. Sayang brand-image serta persaingan “membunuhnya” dan kita tidak mungkin mendapatkannya resmi di Indonesia.

Tanpa aksesoris LG Dual Screen, benda ini tipikal smartphone Android zaman now. Bentuk persegi panjang, muka full-screen dengan sebutan FullVision yang mengkombinasikan panel 6.4 inci dan resolusi FHD+. Bukan Quad HD+ seperti tipikal flagship. Bentuk penghematan, atau agar kompatibel dengan aksesoris LG Dual Screen? Menjadi mesinnya, ada Snapdragon 855 dengan RAM 6GB, menjalankan Android Pie dengan antarmuka baru yang menurut LG kini LG UX mereka telah didesain lebih bersih, dengan ikon dan tab yang disegarkan seperti Dial, Call logs, dan Contacts yang dipindahkan ke sisi bawah layar sehingga pengguna dapat melakukan lebih banyak lagi hanya dengan satu tangan.

LG G8X ThinQ juga memiliki kamera belakang ganda, 13MP dengan field-of-view 136° super wide-angle dan sensor standar 12MP. Ada juga kamera 32 megapiksel di depan, yang menggabungkan empat piksel untuk membentuk 1,6μm piksel besar untuk hasil yang lebih baik. Itu yay-or-nay, karena konfigurasi sensor utama tidak lebih baik dari G8 ThinQ (12 + 16 ultra-wide + 12 telefoto), namun kamera swafotonya lebih mumpuni dengan 32 vs 8 MP (tapi tetap dipangkas kamera ToF yang sebelumnya ada di G8 ThinQ).

Penghematan lainnya, layar OLED 6,4 inci hanya 2340 x 1080 piksel alias FHD+ resolusinya. Di bawah standar flagship LG yang biasanya Quad HD+. Namun dengan langkah LG memaketkan aksesoris LG Dual Screen, kalian juga mendapatkan layar 6.4 inch tambahan dan layar Mono Cover Display 2.1 inch yang berguna menampilkan notifikasi, informasi penting atau penunjuk waktu ketika G8X ThinQ dihubungkan dengan aksesoris Dual Screen-nya. Layar Mono tersebut memungkinkan pengguna melihat notifikasi meskipun tanpa membuka folder ketika ponsel + aksesoris Dual Screen tertutup.

Aksesoris LG Dual Screen sendiri mengadopsi desain engsel 360° Freestop baru yang memungkinkan kalian memutarnya maksimal, untuk melihat pada sudut manapun (0, 104° dan 180°), sama seperti tipikal laptop modern yang bisa diubah menjadi tablet dengan memutar keyboard-nya. Aksesoris ini dapat terhubung ke ponsel melalui port USB.

G8X ThinQ memang bukan sekadar upgrade (atau downgrade) dari G8 ThinQ. Ada banyak perbedaan. Seperti layar membesar (6.4 vs 6.1 inch), meskipun resolusi mengecil (FHD+ vS QHD+), baterai bertambah (4000 vs 3500), speaker juga berbeda (stereo tuned by Meridian Audio vs single speaker), dan pemangkasan konfigurasi kamera dengdn tidak adanya sensor ToF di kamera swafoto seperti G8 ThinQ (alhasil tidak ada fungsi Face ID 3D dan kontrol antarmuka menggunakan gerakan tangan menggunakan Hand ID), namun G8X ThinQ dilengkapi dengan pemindai sidik jari dalam layar.

Dual-speaker stereo-nya ada catatan khusus, karena masing-masing dengan output 1.2W, audio Hi-Fi Quad DAC 32-bit yang dikustomisasi oleh Meridian Audio dari Inggris. Berhubungan dengan audio, ada fitur salah satu mic-nya yang secara otomatis dibuka / aktif ketika merekam video untuk memastikan bahwa suara direkam dalam detail yang jelas untuk menghasilkan sensasi rekaman ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response) yang paling menawan. Ini juga penting, masih ada port audio 3.5mm di sini.

Perlindungan kaca Gorila Glass juga dibalik. Di G8 ThinQ, layar depan terlindung GG5 dan belakang GG6, namun kini dibalik konfigurasinya di G8X ThinQ. Ada alasannya. Ketika kalian hubungkan dengan LG Dual Screen, bagian layar ponsel yang bakal menjadi pusat interaksi (seperti menjadi panel kontroler game dengan tombol virtual yang bebas dikustomisasi, dan layar LG Dual Screen menampilkan gameplay). Jelas perlindungan lebih diperlukan. Sementara punggung G8X ThinQ bakal terlindung ketika kalian hubungkan ke aksesoris LG Dual Screen.

Selain itu, Anda dapat menggunakan tampilan sekunder Dual Screen untuk melihat gambar, video yang diambil dari kamera utama, mode dua video, dan banyak lagi. Ah ya, kami harap LG juga memasukkaan mode keyboard QWERTY besar agar mengubah ponsel ini menjadi layaknya laptop mini. Layar sekunder juga dapat dilipat dan yang terbaik adalah, kalian dapat memeriksa waktu, tanggal, pengisian daya baterai, pemberitahuan, dan informasi berguna lainnya tanpa membuka Dual Screen.

Solusi LG Dual Screen ini memang tidak bisa dikatakan tepat, terutama untuk kalian yang mencari ponsel lipat / fold ala Galaxy Fold atau Huamei Mate X. Bahkan bobotnya jika ditotal dengan aksesoris LG Dual Screen menjadi 326 gram, lebih berat dari ponsel lipat Samsung dan Huawei (263 dan 295 gram). Apalagi jika membandingkannya dengan tipikal smartphone game seperti ROG Phone II (240 gram) dan BlackShark 2 Pro (205 gram).

Namun yang pasti, kalian ngga perlu kuatir jika engsel Dual Screen bermasalah, tidak akan membuat layar utamanya rusak. Kalian juga bebas melepasnya jika memang tidak membutuhajan fungsinya. Menjadikannya sebagai handheld game pun juga tepat, karena layar utama bebas dikustomisasi untuk kontroler yang tidak mengganggu tampilan gameplay di layar sekundernya.

Penulis berharap, semoga konsep LG seperti ini bisa diterima baik di pasaran (bukan sekadar di mata fans LG saja), dan LG juga bisa mengembangkan lebih lanjut. Misalnya, mengurangi bobotnya, atau mengembangkan software / UI Dual Screen agar lebih banyak fungsinya.

Lanjut ke halaman 2 untuk detail spesifikasinya…